an amateur writer who never stop writing

Wednesday, September 9, 2015

Subliminal Advertising

Tulisanku hari ini agak berbobot untuk dibaca. Aku akan membahas mengenai Subliminal advertising yang kontroversial dan dilarang keberadaannya di beberapa negara. Yup, ini materi kuliah hari ini yang menurutku menarikJadi, aku bakal memberikan pandangan mengenai advertising ini.

Well, sebelum aku berkomentar banyak tentang apa yang aku pikirkan mengenai subliminal advertising, ada baiknya menyamakan persepsi mengenai apa itu subliminal perception. Subliminal perception terjadi ketika adanya stimulus yang diberikan kepada seseorang ketika ia berada di ambang batas kesadarannya. Stimulus ini kemudian akan mempengaruhi pikiran, perasaan, atau tindakan yang dilakukam oleh seseorang. Masih bingung? Let's see.. Aku bakal kasih 2 contoh subliminal message dalam film Focus dan Now You See Me

1. Focus


Aku salah seorang penikmat film dengan genre romantic comedy-drama. Film ini salah satu film recommended untuk ditonton. Film yang diperankan oleh Will Smith ini bercerita tentang sekelompok copet yang memiliki teknik mencopet yang luar biasa. Mereka mencopet secara terencana dan diatur dalam skenario. Skenario dan akting yang mereka lakukan bertujuan menarik perhatian orang-orang di sekitarnya yang menjadi target dari pencopetan mereka. Dengan skenario menarik fokus dari setiap korban, kelompok pencopet ini dapat mengumpulkan hasil curian dalam jumlah yang sangat besar.

Suatu hari Nick (Will Smith) membawa Jess (wanita anggota pencopet baru) pergi menonton America Championship Game. Mereka bertaruh banyak hal diarena hingga menarik perhatian seorang milyuner, Liyuan Tse untuk ikut dalam taruhan mereka. Setelah beberapa kali taruhan yang terjadi antara Nick dan tuan Liyuan Tse hingga akhirnya mereka bertaruh dalam jumlah besar. Taruhan ini simple, Nick hanya perlu menebak nomer pemain berapa yang akan dipilih oleh Liyuan Tse. Nick menyerahkan tugas ini kepada Jess untuk menebak. Jess ketakutan karna Nick mempertaruhkan semua uang hasil kerja keras geng pencopet dalam taruhan ini. Nick tetap memaksa Jess menebak hingga akhirnya Jess melihat pemain bernomer 55 dipakai oleh temannya. Tentu saja Jess langsung menyebutkan angka 55. Dan ternyata BENAR. Tuan Liyuan Tse benar-benar menebak angka tersebut dan Nick menjadi pemenang dalam taruhan itu. Well, dimana subliminal message-nya?

Bagaimana bisa Nick membaca pikiran Liyuan Tse akan menebak angka 55. Film ini jelas menceritakan bagaimana kelompok pencopet ini menciptakan skenario dan menyusupi Tuan Liyuan Tse dengan angka 55 sejak dia berada di mobil, hotel, memasuki arena pertandingan, menempel angka 55 dimanapun tempat-tempat yang secara tidak sadar dilihat oleh Liyuan Tse, termasuk dalam koran yang dibacanya sehingga angka 55 tersebut memenuhi otaknya secara tidak sadar dan pesan ini mempengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakannya dalam memilih. GOOD JOB!

2. Now You See Me


Begitu juga subliminal message yang terjadi dalam film Now You See me. Pengaruh subliminal message terjadi dalam pertunjukan sulap yang dilakukan sekelompok pesulap profesional ini untuk memindahkan uang dari rekening ke salah satu Bank. Saat itu pesulap meminta seseorang memilih Bank mana yang akan dipilih.

Sebelum Proses pemilihan Bank tersebut, orang yang diminta untuk memilih diberi stimulus mengenai Paris. Semua kegiatannya "dihantui" hal-hal yang berbau Paris tanpa dia sadari sehingga Paris memenuhi alam bawah sadarnya. Hal ini mendorong dia untuk memilih Bank Paris.

Dua contoh film di atas menunjukan betapa dahsyatnya dampak dari subliminal message. Begitu juga ketika metode ini dilakukan dalam dunia advertising. Subliminal advertising pernah dilakukan di sebuah bioskop di New Jersey yang menayangkan iklan popcorn beberapa detik secara tiba-tiba, sangat cepat dan tanpa disadari. 

Subliminal advertising ini sangat kontroversial sehingga beberapa negara mengilegalkan iklan tersebut. Menurut pendapatku, subliminal advertising menjadi kontroversial karena di satu sisi iklan tersebut memaksa seseorang untuk membeli produk. Subliminal advertising menjadi tidak etis karena memberikan stimuli di alam bawah sadar kita. Mirip hipnotis kan? Tapi di sisi lain, subliminal advertising merupakan salah satu bentuk "usaha" dalam marketing dan hal tersebut menjadi etis ketika konten yang disisipkan dalam subliminal advertising memberikan dampak positif dan tidak mengandung unsur-unsur seksual ataupun hal-hal negatif lainnya. 

Jika dilihat dari efektifitas penyampaian pesan tentu saja subliminal advertising ini merupakan cara yang tidak efektif dalam mendeliver value product kepada konsumen mengingat waktu penayangannya hanya beberapa detik. Metode ini tidak cukup memberikan informasi mengenai produk, apalagi untuk diterapkan pada produk baru yang sebagian besar calon konsumen tidak tau kegunaannya sehingga iklan seperti subliminal advertising ini tidak sesuai dengan tujuan komunikasi produk.


3 comments:

  1. Kereeeeennnnnn nad ~ beneran berbobot bahasan kali niii...

    ReplyDelete
  2. Wah menarik sekali, jika di bidangku : seni rupa, memang ada juga pembahasan mengenai psiko analisa, sejauh mana seniman tanpa disadari menggunakan simbol simbol tertentu pada karyanya. Simbol simbol ini terbentuk tanpa sadar, yang merupakan hasil dari apa yg dialami dikenyataan yg akhirnya masuk juga di alam bawah sadarnya.

    Tapi yg membuat saya penasaran ialah sejauh mana stimulus tersebut efektif pada setiap kelompok masyarakat ? Jika ada norma, kebiasaan dan etika yg berbeda yang diyakini oleh setiap pihak, bagaimana menciptakan stimulus yang bisa berdampak besar ( kolektif )..

    #Sekedar mengutarakan saja apa yg terlintas saat membaca tulisan ini :)

    ReplyDelete

Popular Posts

About Me

My photo
-Sarjana Ekonomi, FEM-IPB 2010 -Management Bussiness Institut Pertanian Bogor (MB-IPB) 2014 -Magister Management Universitas Indonesia (MMUI) 2014 Batch 2