an amateur writer who never stop writing

Tuesday, November 13, 2012

FENOMENA BEROBAT GRATIS DAN DOKTER COASS

Hubungan Dokter dan Pasien
Boomingnya pemberitaan di media massa tentang berobat gratis yang baru-baru ini terjadi di DKI tentu saja membuat masyarakat gembira. Kebutuhan masyarakat tentang kesehatan terpenuhi dengan mudah tanpa harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan. Sudah menjadi hal yang tidak asing bagi kita bahwa tingginya tingkat kesehatan masyarakat merupakan salah satu kriteria kesejahteraan suatu daerah. Sejak kepemimpinan Bapak Joko Widodo, masyarakat seperti menemukan Jakarta yang lebih baru. Tentu saja ini menjadi salah satu pembuktian atas kampanye yang dilakukan beliau ketika maju dalam PILGUB DKI 2012. Pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat di puskesmas seluruh DKI membuat fasilitas ini dipenuhi oleh pasien yang membutuhkan.

Jika sebelumnya berobat ke puskesmas hanya membayar Rp2000, sekarang menjadi Rp0,00. Wow! Angka yang sangat sulit dibayangkan di tengah situasi yang dimana-mana serba mahal. Terang saja jumlah pasien yang berobat semakin membeludak. Angka yang fantastis pada peningkatan jumlah pasien yang datang terjadi sejak diumumkannya berobat gratis. Masyarakat tidak perlu menunggu kartu sehat keluar, cukup membawa foto copy KTP untuk berobat. Siapkah Puskesmas menghadapi ledakan pasien ini? Setiap harinya di televisi selalu kita lihat update berita seputar berobat gratis. Situasi dan kondisi yang sangat memprihatinkan yang bisa saya simpulkan bahwa banyak sekali warga Jakarta yang sebenarnya membutuhkan pengobatan. Akan tetapi di sisi lain, pembludakan pasien ini membuat antrian semakin panjang. Jika dihitung menggunakan teori antrian entah berapa banyak pasien yang datang ke puskesmas dalam 5 menitnya. Antrian yang sangat panjang ini sudah sangat jelas memberi dampak bagi pihak puskesmas. Banyak pihak yang akan merasa keteteran dalam mengurusi segala urusan. Misalnya perawat, bagian administrasi pendaftaran, dan yang tidak kalah penting adalah dokter.

Normalnya, satu orang dokter hanya boleh menangani maksimal lima belas pasien. Tapi kenyataannya kita lihat sendiri di negara kita, entah berapa banyak pasien yang ditangani oleh satu orang dokter dalam sehari. Jika di Puskesmas dari jam 08.00-13.00 pasien terus berdatangan, berapa banyak pasien yang ditangani? Bagaimana seorang dokter bisa memaksimalkan pelayanan kesehatan terhadap pasien jika jumlah jumlah antrian pasien begitu panjang? Cukupkah jam kerja di Puskesmas tersebut?

Saya ingin membawa pada situasi lain ketika seorang dokter yang berada di Puskesmas tersebut adalah seorang dokter coass. Setiap harinya di Timeline twitter saya selalu muncul keluhan mereka. Mungkin hal ini juga yang membuat saya terdorong untuk menulis di sini. Stase terakhir bagi seorang coass adalah Puskesmas. Kondisinya, mereka berhadapan dengan pasien layaknya seorang dokter profesional. Di mata pasien tentu saja mereka adalah seorang dokter yang akan mengobati, tetapi bagi pihak Puskesmas coass tetaplah coass. Mereka masih dalam tahap belajar, menerapkan ilmu-ilmu yang mereka miliki selama menempuh pendidikan 3,5 tahun ditambah 1,5 tahun coass. Dokter coass tidak digaji, tetapi lagi-lagi pekerjaan mereka saat di Puskesmas sama seperti seorang dokter profesional. Bayangkan bagaimana lelahnya mereka ketika peningkatan drastis pada jumlah pasien terjadi. Di satu sisi mereka mempelajari berbagai macam penyakit, pemerikasaan dan menerapkan ilmu komunikasi yang baik terhadap pasien membutuhkan waktu yang cukup untuk face to face, sedangkan antrian pasien begitu panjang membuat pihak puskesmas terpaksa mendesak dokter coass agar mempersingkat waktu pemeriksaan pasien.

Saya percaya dilema ini terjadi di beberapa puskesmas DKI. Adakah yang melindungi dokter coass dari serangan jumlah pasien yang membludak dan keluhan dari para perawat karena antrian yang begitu panjang? Hal lain yang ingin saya buka di sini, pasien yang datang berobat terkadang juga kurang bersahabat. Ketika antrian panjang dan waktu tunggu semakin lama membuat beberapa pasien terkadang tidak sabar dan mengomel di ruang tunggu. Sedangkan ketika mereka masuk ke ruang dokter tentu saja mereka menginginkan pelayanan yang maksimal dan membutuhkan waktu face to face yang cukup bersama dokter guna mengkonsultasikan keluhannya.

Dokter Coass
Pernah kah kita membayangkan kesiapan berobat gratis ini? Jika hal ini berlangsung lama apakah akan berjalan efektif? Tentunya semua ini perlu dikaji ulang. Saya sangat gembira ketika program Berobat Gratis ini berjalan baik karena kesehatan telah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi manusia. Sudah sewajarnya pemerintah melindungi warga negaranya dari ancaman penyakit yang bisa melemahkan. Akan tetapi, di balik program ini sendiri pernahkah terpikir tentang nasib beberapa profesi yang berkaitan langsung dengan program tersebut?


Sebuah artikel yang bagus untuk dibaca :

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/11/12/mirisnya-nasib-dokter-internship-502486.html

0 komentar:

Post a Comment

Popular Posts

About Me

My photo
-Sarjana Ekonomi, FEM-IPB 2010 -Management Bussiness Institut Pertanian Bogor (MB-IPB) 2014 -Magister Management Universitas Indonesia (MMUI) 2014 Batch 2